Ada lagu yang bilang kalau cinta bisa datang kapan aja, sama sapa aja, dimana saja, dan dalam momen apa saja. Pastinya setiap orang punya cerita unik masing-masing tentang bagaimana cinta datang dan bertindak dalam hidup mereka. Tapi lucunya banyak dari mereka yang merasa bahwa cerita mereka unik banget dan layak di bikinkan film layar lebar. (oh, ababil!!!) Tapi memang benar kalau di katakan bahwa cinta bisa datang kapan saja. Bahkan kita tidak pernah menyadari bahwa cinta sudah datang. Tau-tau kita sudah larut.
Ini kali kedua saya mencoba membuka hati untuk pendatang baru di hidup saya setelah saya putus. Banyak yang bilang saya salah pilih. Banyak yang meragukan tentang dia. Banyak sisi negative yang saya dengar tentang dia. Banyak yang bilang kalau Bu RT hobi kredit panci (Ups, apa ini??) Sudah sejak lama saya mendengar sisi negative ini. Lama sebelum saya lulus kuliah dan berkarir. Dan hal ini menjadi sebuah paradigma yang terpasung kuat di jidat saya. Paradigma yang akhirnya mampu menutup segala peluang untuk jatuh hati.
Saya pertama kali ketemu dia di sebuah pemilihan putra putri kampus di sebuah kampus berjudul kampus laut biru. Waktu itu dia sebagai MC di acara tersebut. Saya membatin saat melihatnya. Oh, itu yang namanya Bunga (sebenernya bukan bunga, tapi karna kebutuhan, sebut saja bunga. Ini bukan bunga yang biasanya di koran-koran itu loh!!). Bunga sangat oke pada waktu itu. Tapi karna sihir paradigma sialan yang nempel dengan pliketnya di jidat saya yang waktu itu belum ada jerawatnya, akhirnya dia nggak lebih daripada makhluk indah yang lewat begitu saja. Lewat tanpa pernah tercantol sehelai benangpun disini *nunjuk dada*.
Hari-hari ke depan jelas sekali saya tidak pernah memikirkan dia sedikitpun. Sampai suatu hari saya di haruskan untuk bertemu dengan si bunga cantolan tadi. Waktu itu saya sudah berkarir di Jtv sebagai PA. Karir yang akhirnya menuntut saya untuk sering bertemu dengan bunga. Bunga jelas mempesona buat saya. Tapi saya tidak pernah sedikitpun mempuka peluang bagi hati saya untuk jatuh hati. Banyak cara untuk dilakukan. Contohnya, saya tidak pernah melihat matanya ketika mem-briefing dia (metode yang saya terapkan pada orang-orang yang kemungkinan bisa bikin saya jatuh hati). Lagian menurut hemat saya (cie ela hemat??? Belanja alfa mart kali ya hemat???) mana mungkin seorang bunga mau menolehkan kepala untuk saya? Jelas tidak bisa menoleh, kan lehernya keseleo (lho???)
Minggu berganti minggu, dan Krisdayanti pun mulai berlomba menghitung hari bersama Syahrini. Dan yang menang ternyata Raul Termos. Huf.. Kok bisa sih!!! Nyebelin deh!! *ngambek* (kayaknya ada yang nggak beres. Oke kita kembali ke bunga!! Fokus!!). Hampir setiap hari minggu saya harus bertemu si kembang desa ini, membriefing seperlunya untuk mencegah hal yang sebenarnya saya juga nggak pernah mengharapkan dan ya memang tidak terjadi apa-apa seperti yang saya harapkan. Suatu hari saya terpaksa meminta nomor hp-nya ke kru yang lain karena si bunga desa cantolan panci ini belum juga kelihatan di lokasi syuting. No answer. Nggak ada jawaban, padahal matahari sudah tinggi. Lalu akhirnya saya mengalilingi kampung tempat syuting. Eh, ternyata bunga lagi ngeteh di depan rumah warga dengan presenter yang lain. Hm… untunglah.
Soal kejadian di atas, saya nggak menyimpan nomor si bunga. Ya, saya meminta nomornya untuk menanyakan posisinya yang waktu itu belum kelihatan di lokasi syuting. Tapi nggak di save. Benar-benar berlalu bagitu saja. Siang harinya di ruang editing, ada sebuah nomor sms dari nomor tak dikenal yang isinya menanyakan “Bapak gama lagi apa?”. Waduh siapa nih? Mbok piker iki group arisan bapak-bapak ta? Jelas sms ini bukan sesuatu yang berarti. Saya buka smsnya, saya baca, saya tutup, dan saya tidur lagi dengan acuhnya.
Sesion kedua dimulai dari facebook. Yah, aku yakin ini bakalan terlihat so sinetron lah yau. Masih ingat dengan “bapak Gama”. Yup lagi-lagi si bapak rupawan tersebut nonggol di facebook (lho, aku dong???). Saya kaget dan langsung saya cari sms jadul peninggalan Majapahit yang juga berisikan “Bapak Gama”. Saya cermati nomornya, dan langsung jari-jari saya tancap gas me reply sms yang sudah berumur ratusan tahun tersebut (sebenernya cuman beberapa bulan kok). “Ini bunga ya? Bla bla bla”. Wah, ternyata benar, jadi dulu yang menanyakan “ Bapak Gama lagi apa” itu adalah bunga. Wush… bibirku melengkung mambentuk senyuman. Bukan suatu perasaan kayak gimana yang timbul, hanya sebuah perasaan senang saja mengetahui fakta ini. Hanya itu. Saya senang dengan faktanya, bukan dengan bunga. Jelas karena paradigma yang masih membentengi saya.
Saya memang baru saja putus. Tapi bukan berarti saya menerima perhatian sebagai suatu pelampiasan. Bukan. Bukan itu sebabnya. Awalnya dia yang memberi perhatian. Kemudian saya membalas perhatiannya. Dan akhirnya kami saling melempar panci (lho??) dan akhirnya kami saling memberi perhatian. Pelan-pelan bentuk perhatian yang walaupun tidak intens, mulai mengisi hari-hari saya yang sedang kosong, memberi kan senyuman disetiap hand phone saya bergeter, mengembalikan senyum saya yang sudah sejak lama terambil, mengisi mood saya, mengembalikan gairah saya, dan, yah, dia membuat saya mulai terbiasa dengan semuanya, dan melupakan paradigma yang selama ini berhasil mencegah saya jatuh hati.
Pertanyaan yang muncul sekarang. apa yang kamu lakukan jika kamu jatuh hati dengan orang yang kamu tahu bersifat negative? Dan inilah yang saat ini sedang saya alami, yang saya coba ceritakan. Karena ketika saya teringat dengan pandangan negative tentang bunga, itu semua sudah tidak begitu berarti. Saya sudah jatuh hati. Jatuh hati dengan segala resiko yang mungkin terjadi. Jatuh hati yang menurut teman-teman saya, jatuh hati kepada orang yang salah.
Ada yang berpendapat, jika kita mencintai seseorang kita juga harus bisa menerima sisi negative. That’s the point. Its okelah yo kalo sisi negatifnya sejenis sifat ngambekan, gak gaul, ngefans sama SM*SH, childish, rada pelit, rada o’on, atau kekurangan fisik seperti gak gaul, rambut belah tengah, pendek, gemuk, kurus kerempeng, kaki di kepala kepala di kaki, hidung di mata mata di rumah tetangga sebelah (hasyah!! ngaco deh!!) dan lain sebagainya. Tapi bukan itu sisi negatifnya bunga, si bunga di tepi jalan alangkah indahnya ini (kok kayak lagu ya??) agak bermasalah dengan kesetiaan, yah, suka berganti-ganti pasangan gitu lah. Atau istilahnya play girl. Sebenarnya nggak papa sih, Tapi yang jadi masalah adalah, saat ini saya jatuh hati dengan bunga. Jatuh hati dengan orang yang banyak diberitakan sebagai play girl. Yah seperti kata teman sebangku saya waktu SMA yang sekarang sudah sukses jadi penyanyi, Bunga Citra Lestari (Palsu!!) dalam lagunya, tentang kamu, “bagaimana jika akhirya ku cinta kau, dari kekuranganmu hingga lebihmu.”
Entah mulai kapan dan sampai kapan perasaan ini ada. Tapi yang jelas saya mencoba sportif dan tidak berusaha membohongi diri saya seperti yang di lakukan beberapa tokoh di dalam sinetron. “Aku benci Anjeli, aku tidak mungkin mencintainya!!!” kata Vijay dalam sebuah sinetron India tralala. Eh, setelah iklan 5 menit, mereka tau-tau sudah menikah dan punya anak!! Anaknya lima pula, nggak ikutan KB!! (lho??) Kalo saya jujur sajalah sama perasaan saya. Nggak usah mencoba bermain sinetron. Saya jatuh hati dengan bunga. Bunga si Peri Emas.
Minggu, 30 Januari 2011
Kamis, 13 Januari 2011
munak vs jaim = Nothing
Saya berusaha tidak berekspresi, tampil biasa, berusaha tidak menarik perhatiannya. Walaupun pada kenyataannya di dalam kamar mandi secara tidak sadar saya tersenyum luarbiasa lebarnya, dan membubuhkan wewangian. Shit!! Saya tertarik.
Pertama kali dia menyebutkan namanya, saya menahan nafas beberapa detik. That’s a great smile!!
Pertama kali dia menyebutkan namanya via sms, saya hampir merobohkan Graha Pena (berlebihan) karena kaget. Darimana dia tahu nomor saya??
Alih-alih menatap matanya ketika berbicara, saya malah menatap jauh ke daftar menu KFC, jam dinding, Atau menatap jalanan dari kaca.
Saya takut ketika melihat metanya dia akan melihat mata saya dan mengetahui bahwa saya menyimpan sesuatu untuk dia.
Perlahan-lahan dia menjauh, entah karena saya yang tidak ko operatif, atau memang bukan saya yang dia cari. Atau saya yang Ke GR-an??
Dan ketika pada akhirnya saya tidak mendapatkan apa-apa. Saya hanya bisa menyesal. Menyesali saya yang takut untuk dimiliki atau memiliki. Menyesali ketakutan saya untuk menjalin suatu hubungan.
Pertama kali dia menyebutkan namanya, saya menahan nafas beberapa detik. That’s a great smile!!
Pertama kali dia menyebutkan namanya via sms, saya hampir merobohkan Graha Pena (berlebihan) karena kaget. Darimana dia tahu nomor saya??
Alih-alih menatap matanya ketika berbicara, saya malah menatap jauh ke daftar menu KFC, jam dinding, Atau menatap jalanan dari kaca.
Saya takut ketika melihat metanya dia akan melihat mata saya dan mengetahui bahwa saya menyimpan sesuatu untuk dia.
Perlahan-lahan dia menjauh, entah karena saya yang tidak ko operatif, atau memang bukan saya yang dia cari. Atau saya yang Ke GR-an??
Dan ketika pada akhirnya saya tidak mendapatkan apa-apa. Saya hanya bisa menyesal. Menyesali saya yang takut untuk dimiliki atau memiliki. Menyesali ketakutan saya untuk menjalin suatu hubungan.
Label:
gama kurniawan,
graha pena,
jaim,
kfc,
nothing
Langganan:
Postingan (Atom)
